Funtaste 4 Vs Fantastic 4 Membaca frase tersebut membawa ingatan kita pada 4 tokoh komik Marvel yang menjadi superhero dikarenakan mutasi gen akibat radiasi batu luar angkasa sehingga tubuh mereka dapat berubah berdasarkan karakter dari orang tersebut. Apakah kemiripan nama ini ada hubungannya dengan fantastic 4 yang merupakan kelompok super hero tersebut. Apakah ke empat seniman itu memiliki kesamaan kekuatan fisik yang sama dengan ke empat tokoh Fantastic 4-nya Marvel sehingga menjadi super hero ataukah sama dengan F4n-ya para bintang sinetron dari Taiwan yang sekitar tahun 2002 ke empat anak muda berwajah oriental ini menjadi bintang Asia dengan sinetron yang berjudul?
Funtaste 4 ternyata sangat jauh berbeda dengan Fantastic 4 begitu juga dengan F4-nya bintang sinetron dari Taiwan tersebut, penampilan mereka tidak terlihat ganteng seperti bintang F4 atau menunjukan tanda-tanda fisik sebagai super hero. Persamaannnya adalah kita dapat melihat kekuatan mereka dari karakter yang ada pada orang tersebut, jika karakter di Fantastic 4 dapat membentuk kekuatan fisik yang luar biasa, karakter dalam kelompok funtaste menjadi kekuatan visual karena taste mereka yang berbeda perbedaannya adalah jika ke empat tokoh fantastic 4 memiliki kemampuan fisik di luar kemampuan manusia awam yang menyebabkan mereka menjadi super hero. “Funtaste 4″ memiliki keberagaman taste atau cita rasa yang berbeda-beda antara seniman satu dengan yang lainnya. Inilah yang membedakan antara super hero di dunia fantasi dan super hero yang hidup di wilayah dunia seni rupa. Permasalahannya sekarang adalah apakah taste visual dan taste mereka memilih idiom-idiom yang dijadikan sebagai metaphor dalam karya-karya mereka memiliki cita rasa yang tinggi?
Secara taste visual ke empat seniman muda ini meiliki taste yang cukup tinggi. Kita dapat merasakan taste mereka ini dengan melihat kemampuan penguasaan teknik realistik yang cukup baik. Namun permasalahannya adalah pada taste mereka dalam memilih suatu obyek yang mereka jadikan sebagai metaphor.
Sebagai salah satu contoh adalah karya Andi Cakra Abbas. Andi yang menjadikan buah durian sebagai metafor untuk wanita, dimana seorang lelaki melihat wanita itu hanya seperti sebuah durian yang siap untuk disantap tapi tidak menghargainya sebagai manusia yang memiliki perasaan dan hati. Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana buah durian sebagai metafor wanita ini masih digabung dengan seorang wantia [secara verbal] yang sedang memegang buah durian tersebut. Pencampuran dua obyek [teks] antara yang verbal dan yang menjadi metafor ini menjadi ambigu, sehingga yang terjadi adalah memverbalkan apa yang telah menjadi metafor.
Ini Baru Ini: Gelagat dari Arus Bawah
Konstruksi ‘Aku’
Dari 36 seniman yang terlibat di dalam pameran Ini Baru Ini, karya semisal Andi Cakra Abbas, W Alimin SW, Badru Zaman, Baskoro Latu, Lia Mareza, Bonita Margaret, Eunice Nuh, G Prima Puspitasari, Hendra ‘Hehe’ Harsono, Irfan Winoto Dechan, Octo Chan, Lydiawati, Kania, Tere/Theresia A Sitompul, Timotius Anggawan, Restu, Riduan serta Radi Arwinda setidaknya berada dalam semangat lowbrow itu. Karya-karya mereka mengakar pada aktualitas kebudayaan pop kita. Dan perlu dicatat bahwa mereka tidak berkarya secara deduktif, artinya mereka membebaskan diri dari kepentingan yang ada di luar dirinya, yang kita sebut narasi besar itu.
Di dalam seni video, kita temukan Febie Babyrose dan Yusuf Ismail. Memang, tidak seluruh karya-karya yang kita nikmati di dalam pameran ini mengusung lowbrow. Lukisan dari Abdul Fattah, Donny Paul, Iwan Hasto, Hikmah, Mulyo Gunarso, Monika Ary Kartika, Patricia, Dita Gumira, Irawan Pras serta I Wayan Kun Adnyana misalnya. Selebihnya kita temukan karya-karya yang menyuguhkan kuasi estetik, yaitu berupa kombinasi dari pelbagai genre seni rupa.
Hanafi tampil dengan karya yang berbeda dari kelaziman reputasinya selama ini. Dia menampilkan potret dirinya sebagai pose yang terbuka untuk ditafsir. Saya menduga hal ini terkait dengan revitalisasi kekaryaan Hanafi yang mencoba menginterupsi situasi aktual yang dihadapi olehnya. Potret diri disitu Sejauh pengamatan, menyoal pembedahan satu sisi modernitas (modernity) dari perspektif: cara bertanya terhadap suatu fenomena dan cara bertanya individu terhadap dirinya sendiri (self). Untuk memudahkan, perbedaan cara bertanya tersebut saya kategorikan sebagai: kesadaran sosiologis-historis dan kesadaran filosofis-etis. Tampilan wajah Hanafi yang frontal mencakup ihwal cara bertanya tersebut. Ada kesan Hanafi menghindari perangkap cara berfikir periodik dan mengutamakan suatu keterputusan (discontinuity) dengan masa lalunya.
Dari refleksi karya Hanafi ini, kita bisa menjabarkan kecenderungan umum di seniman lainnya dalam pameran ini. Yakni bagaimana seorang seniman berani ‘memproblematisasikan” dirinya dengan situasi terkini. Sekali lagi, ini akan terkait dengan krisis identitas yang saya tulis di atas dimana ihwal diri (self) harus diciptakan dengan cara terus mempertanyakan apakah hari ini? apakah situasi terkini dari kesadaran sang-self tersebut?. Sebagai seniman, tentunya, kedasaran untuk mempertanyakan terus apakah seni itu? Dalam makna yang positif – dan memang kita harus menilainya dalam koridor itu - krisis identitas memuat simtom sizofrenia (pribadi kembar) yang banyak bermukim di dalam individu seniman.
Seniman pada prinsipnya mengolah dunia batin untuk mengonstruksi keutuhan sang “aku”. Yaitu “aku” yang menempuh resiko hidup, “aku’ yang menghadapi konflik-konflik antara diri dengan dunia sekitarnya. Itulah “aku” yang modern, yang merupakan tindakan tajam melihat realitas, berani melakukan konfrontasi pada praktik kebebasan seraya sekaligus dijadikan penghormatan dan pelanggaran terhadap realitas itu sendiri.
Pameran bertajuk Ini Baru Ini ini mencakup pula seniman Asia Tenggara, sebutlah Eric Chan (Singapura), Ruel Cassi (Filiipina), Bembol de la Cruz (Filipina) serta Wong Perng Fey dan Liew Choong Ching (Malaysia). Karya mereka tampil dengan kematangan tertentu yang dengan segera bisa kita rasakan perbedaannya dengan seniman lokal. Perbedaan itu terletak pada gagasan yang berujung pada tematik yang khas. Selain itu, secara teknik kita jumpai tingkat kematangan yang berbeda.