Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Andi Cakra's a Massive Art

HomeCURRICULUM VITAE
I. BIODATA

Nama lengkap : Andi Cakra Abbas, S.Sn
Tempat dan tanggal lahir : Wawondula (Sul-Sel),16-08-83
Pendidikan Terakhir : FSR_Seni Lukis_ Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Alamat Sekarang : Tanjung Uncang - Batu Aji - Batam - Inonesia
Hp : 082173730727
Email : ez_campoerangan@yahoo.com
Facebook :andiCAKRA profile

II. EXHIBITION ACTIVITY

A. Solo Exhibition:

2010
- “EGOCENT(U)RY, ViviYipArtRoom2, Ciputra World Marketing Gallery, Jakarta Selatan

B. Group Exhibition

2010
- Reuni angkatan 2001 ISI Jogja “ACTION2001” Taman Budaya Yogyakarta.
- Illustrasi Cerpen Kompas 2009 di 6 kota (Jakarta ,Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Solo dan Bali.
2009
- “DISTANCE” TonyRaka Art Gallery Bali.
- “PLUS MINUS” Bentara Budaya Yogyakarta.
- “SUBJECTS EXPOSE(s)” Pure Art Space Jakarta.
- “Mitologi Baru Kehidupan Sehari-hari Seni Rupa Kontemporer Indonesia” MBC Gallery Daegu Korea.
- “Bazaar Art Jakarta-Indonesian Art Festival” Kupu-kupu Art Management, Ballroom I, The Ritz Carlton, Pasific Place Jakarta.
- “Daegu Art Fair” Daegu Korea.
- “EXPOSIGN” 25 Tahun ISI Yogyakarta, Jogja Expo Center (JEC).
- “Tanda Mata VII” Bentara Budaya Yogyakarta.
2008
- “Sensasi Kolaborasi” Coral Art Legacy Yogyakarta.
- “Warna-warna Jakarta” Jakarta Art Awards 2008, Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara.
- “INI BARU INI” Grand Opening ViviYipArtRoom, Pejaten Jakarta Selatan.
- “FANTASTIC 4” Gallery Biasa Yogyakarta.
2007
- “Soft Opening” Panggon Ijo Resto Babarsari Yogyakarta.
- Dies Natalies XXIII ISI Yogyakarta, Galeri ISI Yogyakarta
- “lomba Kaligrafi” UIN Yogyakarta.
- Tugas Akhir “Citra rokok dalam perspektif pribadi sebagai tema lukisan” Gang Seni murni FSR ISI Yogyakarta.
2006
- “Pra Peksiminas” Atrium kampus Sanata Dharma Yogyakarta.

2005
- “Hari Wanita Internasional” Taman Budaya Yogyakarta.
- “Launching Komik” Gedung Pasca Sarjana ISI Yogyakarta.
- “Seni Kebangkitan Rakyat #6” di Bale Mangu kompleks kepatihan Malioboro Yogyakarta.
2004
- “I am A Terrorist” kelompok PUSER’01 #2, Benteng Vredeburg Yogyakarta.
- “Young Artist Talent” Kafe Seturan Yogyakarta.
- “Apa kabar Magelang?” kelompok JAMUR’01 di Toms Silver Magelang.
- “Lomba Komik” Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta.
- Mural “Wall Exploration” di tembok sisi selatan ISI Yogyakarta.
2003
- “Puserku sedang puber” kelompok PUSER’01 #1 di Galeri ISI Yogyakarta.
- “Semua sama tapi tak semua” Kelompok Lampu Andong, Benteng Vredeburg Yogyakarta.

C. Award

2008
- Finalis Jakarta Art Awards 2008 “ Warna-Warna Jakarta”.




























VideoNov 7, '11 10:11 PM
for everyone



Photo AlbumCreated in the middle 2010Jul 13, '10 9:00 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumANDI'S FAMILYApr 14, '10 10:31 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumKARYA TUGAS AKHIR (2007)Apr 14, '10 9:46 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumKARIKATOERApr 13, '10 2:54 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumEGOCENT(U)RY_Solo Exhibition 2010Apr 12, '10 5:30 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
EGOCENT(U)RY|Solo Exhibition by ANDI CAKRA ABBAS|VIVIYIPARTROOM2|Annexe Ciputra World Marketing Gallery|Casablanca|JAKSEL
Menyambut kepribadian Baru

Egocent(u)ry merupakan integritas dari “centuries of egocentric”. Abad egosentris dalam konteks popularitas sangat memungkinkan lahirnya sosok pribadi baru yg berperan seiring tuntutan profesionalitas. Dalam proses membentuk kepribadian itu, menanggalkan jati diri menjadi figur yang fleksibel dan penuh trik menghadapi berbagai hal yang sekiranya dapat menjadi kendala, sering terjadi banyak improvisasi yang diantaranya bertentangan hingga hanya menjadi momok untuk diri sendiri. Mau tak mau, sebagai makhluk egosentristik- ketakutan-ketakutan untuk menentang kepribadian hakiki akan menjadi kekuatan untuk mengambil alih dan menyambut kepribadian baru.
Menjadi pribadi seutuhnya adalah suatu dilema tersendiri dalam menghadapi pluralitas kehidupan yang semakin mengejar personalitas yang popular. Adanya hasrat untuk mengangkat diri ke permukaan hingga menjadi perhatian publik, merupakan permasalahan yang kerap mengorbankan jati diri. Konsekuensinya, berbagai referensi menjadi perisai utama demi melindungi jati diri sebagai “aku”, dan mengedepankan sesuatu yang lebih dapat diterima oleh orang banyak. Jika seseorang menjadi dirinya sepenuhnya, terkadang hal tersebut belum dapat diterima oleh orang lain. Dengan demikian, hak asasi pribadi terbatas pada hak asasi orang lain.
Popularitas membuat individu-individu yang seharusnya memiliki ruang privasi, akhirnya menjadi komsumsi publik. Dengan mudah ruang gerak privasi tersebut menjadi panggung spektakuler. Hal ini adalah konsekuensi dari penyandang “popularitas”. Identitas menjadi ambigu atas tuntutan profesionalitas , bahkan menjadi target market dari brand-brand terkemuka untuk menjadi bagian dari world business. Kepribadian asing yang dulunya hanya sebagai topeng, lambat laun melekat kuat sebagai the new personality. Semakin dikenal semakin congkak, selektif berkelas dan anti-regenerasi. “Penyakit” ini sering menjangkiti the young popular.
Siapakah aku? Apakah aku asisten pribadi publik? Kehidupan teatrikal di luar ruang privasi sungguh melelahkan. Semua palsu, kerinduan menjadi pribadi yang utuh dan ruang privasi yang steril, berbalik menjadi impian. Namun citra kepopuleran yang telah didapat, bukan berarti sia-sia. Dalam konteks popularitas, konsisten terhadap basic personality menjadi tantangan bagi anda yang popular.


Andi Cakra Abbas, S.Sn



EGOCENT (U) RY
Welcoming the new personality

Egocent (u) ry is the integrity of the "Centuries of egocentric". Egocentric century in the context of the popularity is very possible emergence of new private figure who acts as the demands of professionalism. In the process of forming a personality that, stripped of identity becomes a flexible and full-figure deal with a variety of tricks that if it could be an obstacle, it often happens that many of them contradictory improvisations until only a scourge for themselves. Inevitably, as the creature-egosentristik fears to oppose the essential personality will be a force to take over and welcomed a new personality.
Being a whole person is a dilemma for the life of its own in the face of an increasingly pursuing a plurality of popular personalities. The existence of a desire to lift themselves to the surface to be a public concern, a problem that often sacrificing their identities. Consequently, various references to the main shield to protect his identity as "me", and highlight something that is more acceptable by many people. If a person becomes himself completely, sometimes things can not be accepted by others. Thus, personal rights limited to the rights of others.
Popularity makes the individuals who should have the privacy of space, eventually becoming public consumption. With a simple space into a stage spectacular privacy. This is a consequence of the physically "popularity." Identity became ambiguous over the demands of professionalism, even becoming the target market from leading brands to become part of the business world. Foreign personalities who used only as a mask, gradually as the new 'strong personality. Increasingly recognized increasingly arrogant, and selective class of anti-regeneration. "Disease" infecting the young are often popular.
Who am I? Am I a personal assistant to the public? Theatrical life in outer space really tiring privacy. All fake, longing to be whole and the personal privacy of the sterile room, turned into a dream. But the image that has gained popularity, not that vain. In the context of popularity, is consistent with the basic challenge for your personality to be popular.


Andi Cakra Abbas, S. Sn

EventMar 2, '09 8:51 AM
for everyone
Start:     Jun 2, '09 09:00a
Pameran Lukisan di Bentara Budaya Jogja

EventMar 2, '09 8:49 AM
for everyone
Start:     May 2, '09 09:00a
Pameran lukisan di TonyRaka Art Gallery Bali

Photo AlbumCreated in 2008-2009Dec 6, '08 9:38 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
DURIANISM AND SENSUALITY

MusicJan 2, '08 2:14 AM
for everyone
01 You Only Live Once First Impression Of earth THE STROKE 
Kau Curi Lagi (Ft. PRISA) Spirit J-ROCKS 
03 jangan Lupakan TOP UP N I D J I 
02 Biarlah TOP UP N I D J I 

EventJan 2, '08 1:08 AM
for everyone
Start:     Jan 14, '08 10:00a
Location:     TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA
SENIN, 14 JANUARI 2008
di TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA
jam 10.00- selesai

Blog EntryJan 2, '08 12:47 AM
for everyone

Visual Art Slideshow: Andi’s trip from Padang, Sumatra, Indonesia to Batam was created by TripAdvisor. See another Batam slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.

Funtaste 4 Vs Fantastic 4

Membaca frase tersebut membawa ingatan kita pada 4 tokoh komik Marvel yang menjadi superhero dikarenakan mutasi gen akibat radiasi batu luar angkasa sehingga tubuh mereka dapat berubah berdasarkan karakter dari orang tersebut. Apakah kemiripan nama ini ada hubungannya dengan fantastic 4 yang merupakan kelompok super hero tersebut. Apakah ke empat seniman itu memiliki kesamaan kekuatan fisik yang sama dengan ke empat tokoh Fantastic 4-nya Marvel sehingga menjadi super hero ataukah sama dengan F4n-ya para bintang sinetron dari Taiwan yang sekitar tahun 2002 ke empat anak muda berwajah oriental ini menjadi bintang Asia dengan sinetron yang berjudul?

Funtaste 4 ternyata sangat jauh berbeda dengan Fantastic 4 begitu juga dengan F4-nya bintang sinetron dari Taiwan tersebut, penampilan mereka tidak terlihat ganteng seperti bintang F4 atau menunjukan tanda-tanda fisik sebagai super hero. Persamaannnya adalah kita dapat melihat kekuatan mereka dari karakter yang ada pada orang tersebut, jika karakter di Fantastic 4 dapat membentuk kekuatan fisik yang luar biasa, karakter dalam kelompok funtaste menjadi kekuatan visual karena taste mereka yang berbeda perbedaannya adalah jika ke empat tokoh fantastic 4 memiliki kemampuan fisik di luar kemampuan manusia awam yang menyebabkan mereka menjadi super hero. “Funtaste 4″ memiliki keberagaman taste atau cita rasa yang berbeda-beda antara seniman satu dengan yang lainnya. Inilah yang membedakan antara super hero di dunia fantasi dan super hero yang hidup di wilayah dunia seni rupa. Permasalahannya sekarang adalah apakah taste visual dan taste mereka memilih idiom-idiom yang dijadikan sebagai metaphor dalam karya-karya mereka memiliki cita rasa yang tinggi?

Secara taste visual ke empat seniman muda ini meiliki taste yang cukup tinggi. Kita dapat merasakan taste mereka ini dengan melihat kemampuan penguasaan teknik realistik yang cukup baik. Namun permasalahannya adalah pada taste mereka dalam memilih suatu obyek yang mereka jadikan sebagai metaphor.

Sebagai salah satu contoh adalah karya Andi Cakra Abbas. Andi yang menjadikan buah durian sebagai metafor untuk wanita, dimana seorang lelaki melihat wanita itu hanya seperti sebuah durian yang siap untuk disantap tapi tidak menghargainya sebagai manusia yang memiliki perasaan dan hati. Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana buah durian sebagai metafor wanita ini masih digabung dengan seorang wantia [secara verbal] yang sedang memegang buah durian tersebut. Pencampuran dua obyek [teks] antara yang verbal dan yang menjadi metafor ini menjadi ambigu, sehingga yang terjadi adalah memverbalkan apa yang telah menjadi metafor.


Ini Baru Ini: Gelagat dari Arus Bawah

Konstruksi ‘Aku’

Dari 36 seniman yang terlibat di dalam pameran Ini Baru Ini, karya semisal Andi Cakra Abbas, W Alimin SW, Badru Zaman, Baskoro Latu, Lia Mareza, Bonita Margaret, Eunice Nuh, G Prima Puspitasari, Hendra ‘Hehe’ Harsono, Irfan Winoto Dechan, Octo Chan, Lydiawati, Kania, Tere/Theresia A Sitompul, Timotius Anggawan, Restu, Riduan serta Radi Arwinda setidaknya berada dalam semangat lowbrow itu. Karya-karya mereka mengakar pada aktualitas kebudayaan pop kita. Dan perlu dicatat bahwa mereka tidak berkarya secara deduktif, artinya mereka membebaskan diri dari kepentingan yang ada di luar dirinya, yang kita sebut narasi besar itu.

Di dalam seni video, kita temukan Febie Babyrose dan Yusuf Ismail. Memang, tidak seluruh karya-karya yang kita nikmati di dalam pameran ini mengusung lowbrow. Lukisan dari Abdul Fattah, Donny Paul, Iwan Hasto, Hikmah, Mulyo Gunarso, Monika Ary Kartika, Patricia, Dita Gumira, Irawan Pras serta I Wayan Kun Adnyana misalnya. Selebihnya kita temukan karya-karya yang menyuguhkan kuasi estetik, yaitu berupa kombinasi dari pelbagai genre seni rupa.

Hanafi tampil dengan karya yang berbeda dari kelaziman reputasinya selama ini. Dia menampilkan potret dirinya sebagai pose yang terbuka untuk ditafsir. Saya menduga hal ini terkait dengan revitalisasi kekaryaan Hanafi yang mencoba menginterupsi situasi aktual yang dihadapi olehnya. Potret diri disitu Sejauh pengamatan, menyoal pembedahan satu sisi modernitas (modernity) dari perspektif: cara bertanya terhadap suatu fenomena dan cara bertanya individu terhadap dirinya sendiri (self). Untuk memudahkan, perbedaan cara bertanya tersebut saya kategorikan sebagai: kesadaran sosiologis-historis dan kesadaran filosofis-etis. Tampilan wajah Hanafi yang frontal mencakup ihwal cara bertanya tersebut. Ada kesan Hanafi menghindari perangkap cara berfikir periodik dan mengutamakan suatu keterputusan (discontinuity) dengan masa lalunya.

Dari refleksi karya Hanafi ini, kita bisa menjabarkan kecenderungan umum di seniman lainnya dalam pameran ini. Yakni bagaimana seorang seniman berani ‘memproblematisasikan” dirinya dengan situasi terkini. Sekali lagi, ini akan terkait dengan krisis identitas yang saya tulis di atas dimana ihwal diri (self) harus diciptakan dengan cara terus mempertanyakan apakah hari ini? apakah situasi terkini dari kesadaran sang-self tersebut?. Sebagai seniman, tentunya, kedasaran untuk mempertanyakan terus apakah seni itu? Dalam makna yang positif – dan memang kita harus menilainya dalam koridor itu - krisis identitas memuat simtom sizofrenia (pribadi kembar) yang banyak bermukim di dalam individu seniman.

Seniman pada prinsipnya mengolah dunia batin untuk mengonstruksi keutuhan sang “aku”. Yaitu “aku” yang menempuh resiko hidup, “aku’ yang menghadapi konflik-konflik antara diri dengan dunia sekitarnya. Itulah “aku” yang modern, yang merupakan tindakan tajam melihat realitas, berani melakukan konfrontasi pada praktik kebebasan seraya sekaligus dijadikan penghormatan dan pelanggaran terhadap realitas itu sendiri.

Pameran bertajuk Ini Baru Ini ini mencakup pula seniman Asia Tenggara, sebutlah Eric Chan (Singapura), Ruel Cassi (Filiipina), Bembol de la Cruz (Filipina) serta Wong Perng Fey dan Liew Choong Ching (Malaysia). Karya mereka tampil dengan kematangan tertentu yang dengan segera bisa kita rasakan perbedaannya dengan seniman lokal. Perbedaan itu terletak pada gagasan yang berujung pada tematik yang khas. Selain itu, secara teknik kita jumpai tingkat kematangan yang berbeda.



MusicJan 2, '08 12:00 AM
for everyone
01 You Only Live Once First Impression Of earth THE STROKE 

   
andiezt wrote on Apr 12, '10
Update lg....
andiezt wrote on May 2, '09
Duren sdh g musim......piye pameranmu? hrus sold out....:b
zalygallery wrote on May 1, '09
masih musim durian gk nieH?